BPPT: PADA 2025, KRISIS AIR DI PULAU JAWA SEMAKIN PARAH

JAKARTA | SURYA Online – Akibat terus menurunnya neraca air pada musim kemarau dan tingginya jumlah penduduk, krisis air di Pulau Jawa akan semakin parah pada 2025.

“Indeks Penggunaan Air (IPA) di Jawa dan Bali antara pengggunaan dengan “dependable flow” semakin meningkat. Kekeringan yang terjadi di beberapa tempat di Pulau Jawa sekarang menyebabkan tempat tersebut cenderung tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan air sendiri,” kata Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Rabu (21/7/2010).

Hal itu disampaikan Sutopo dalam seminar “Defisit Air di Depan Mata, Apa Upaya Kita”. Ketersediaan air di Indonesia masih mencukupi hingga 2020 untuk kebutuhan rumah tangga, perkotaan, irigasi, industri dan lainnya.

Namun secara per pulau, ketersediaan air tidak mencukupi seluruh kebutuhan khususnya di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Surplus air hanya terjadi pada musim hujan dengan durasi sekitar lima bulan sedangkan pada musim kemarau terjadi defisit selama tujuh bulan.

Kebutuhan air secara nasional terkonsentrasi pada Pulau Jawa dan Bali untuk penggunaan air minum, rumah tangga, perkotaan dan lainnya.

Dari data neraca air pada 2003, total kebutuhan air di kedua pulau tersebut sebesar 83,4 miliar meter kubik pada musim kemarau hanya dapat dipenuhi sekitar 25,3 miliar kubik atau 66 persen. Defisit ini diperkirakan semakin tinggi pada 2020 ketika jumlah penduduk dan aktivitas perekonomian meningkat secara signifikan.

Potensi sumber daya air di Indonesia  diperkirakan sebesar 15 ribu meter kubik per kapita per tahun, jauh lebih tinggi dari potensi rata-rata pasokan dunia yang hanya 8.000 meter kubik per kapita per tahun.

Pada 1930, Pulau Jawa masih mampu memasok 4.700 meter kubik per kapita per tahun. Diperkirakan pada 2020 total potensinya tinggal 1.200 meter kubik per kapita per tahun, di mana hanya 35 persen yang layak secara ekonomis untuk dikelola.

Hal tersebut dipengaruhi jumlah penduduk Pulau Jawa yang mencapai 59 persen dari seluruh penduduk Indonesia sejumlah 140 juta jiwa.

Perubahan iklim global juga memberikan dampak terhadap ketersediaan air. Di Jawa curah hujan cenderung menurun pada musim kemarau sedangkan di musim hujan secara spasial bervariasi.

Hujan pada musim kemarau mempunyai tren menurun bervariasi dari 1-9 mm per musim per tahun, sedangkan hujan pada musim hujan lebih bervariasi dengan tren menurun 1-50 mm per musim per tahun.

Sumber: http://surya.co.id

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s