LONGSOR CIWIDEY TIMBUL SEBAGAI AKUMULASI DARI BERBAGAI FAKTOR


Jakarta, 1/3/2010 (Kominfo-Newsroom) – Bencana tanah longsor di perkebunan teh di Kampung Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Selasa (23/2) lalu timbul sebagai akumulasi dari berbagai faktor, yaitu seperti curah hujan tinggi, kondisi batuan/geologi dan kemiringan lereng.

“Curah hujan yang terjadi dari tanggal 1 hingga 23 Februari 2010 mencapai 960 mm. Besarnya curah hujan tersebut mencapai 480 persen dari rata-rata normal bulan Februari sekitar 200mm/bulan,” kata Kabid Teknologi Mitigasi Bancana, BPPT,  Dr Sutopo Purwo Nugroho saat memberikan evaluasi bencana longsor Ciwidey dan teknologi mitigasinya di Jakarta, Senin (1/3).

Ia menjelaskan, curah hujan yang besar itu telah menimbulkan beban bagi batuan yang kondisinya sudah rapuh karena mengalami pelapukan dan berada pada lereng yang curam. Kemudian timbulnya mata air pada mahkota longsor makin mempercepat proses kejenuhan dan akhirnya menurunkan kestabilan tanah sehingga terjadi longsor. Dikemukakan bahwa mahkota longsor berasal dari lereng bukit dengan kemiringan curam. Kelerengan di titik longosr mencapai 70 persen hinggga lebih 100 persen. Menurutnya, meskipun kondisi hutan di hulu berupa hutan dengan kondisi yang sangat baik dan di bagian longsor berupa hutan sekunder dan perkebunan teh, namun longsor tetap terjadi.

Longsoran berupa bahan rombakan di tebing mengalir melalui celah bukit, dan berkelok ke arah permukiman penduduk. Jenis longsoran adalah berupa debris flow,” katanya. “Dengan mempertimbangkan berbagai aspek penyebab longsor, maka perlu dilakukan upaya mitigasi bencana,” kata Sutopo Purwo. Sedangkan rekomendasi yang perlu dilakukan, menurutnya, adalah memindahkan permukiman ke tempat yang lebih aman dengan sistem cluster di berbagai lokasi. Pemilihan lokasi juga harus mempertimbangkan analisis bencana dan tata ruang detil. Selain itu, katanya, konservasi berbasis biogeo-engineering pada lembah-lembah perbukitan perlu ditanami dengan pepohonan jenis kayu yang memiliki perakaran dalam yang berfungsi sebagai penahan longsor.

Buffer zone antara kawasan perlindungan (kelerengan tinggi) dengan kawasan budidaya di bagian bawahnya dibuat dengan tanaman pohon yang kuat, ditanam secara rapat dan membentuk sabuk hijau yang tebal/berlapis.

“Jenis vegetasi yang perlu ditanam di daerah-daerah lembah adalah jenis tanaman lokal yang sudah nyata terbukti tumbuh dengan baik di daerah tersebut,” katanya.
Beberapa jenis pohon yang dapat ditanam, katanya, adalah puspa (schima walichii), rasamala (Altingia excelsa), huru (Litsia chinensis), Surian (Toona sureni merr), bambu manggong (Gigantochloa manggong), dan Kayu baros (Manglietia glauca BI). Rekomendasi tersebut termasuk agar mempertahankan lahan dengan kelerengan lebih dari 40 persen sebagai kawasan perlindungan berupa ekosistem hutan alam dengan kerapatan pohon yang tinggi.

“Perlu juga dibangun sistem peringatan dini longsor berbasis kondisi geologi dengan aspek dinamis curah hujan, serta perlu dibuat peta kerentanan longsor yang dinamis dengan skala detil, serta perlu evaluasi risiko bencana longsor keberadaan permukiman di selatan Jawa barat itu,” katanya.

Solusi ke depan, katanya, mitigasi tanah lonsgor perlu terus ditingkatkan. Menurutnya, di Indonesia terdapat 154 kabupaten/kota yang memiliki risiko tinggi terhadap longsor. Trend kenaikan longsor di masa mendatang, katanya, akan semakin meningkat karena perubahan pola hujan, perubahan penggunaan lahan dan atropogenik. Kerugian yang ditimbulkannya pun makin meningkat. “Dalam kurun 10 tahun terakhir, bencana longsor di Indonesia telah menyebabkan sekitar 1.000 orang meninggal dunia,” katanya. (T.Gs/ysoel)
Sumber: http://bipnewsroom.info/index

TIMBUL SEBAGAI AKUMULASI DARI BERBAGAI FAKTOR

Jakarta, 1/3/2010 (Kominfo-Newsroom) – Bencana tanah longsor di perkebunan teh di Kampung Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Selasa (23/2) lalu timbul sebagai akumulasi dari berbagai faktor, yaitu seperti curah hujan tinggi, kondisi batuan/geologi dan kemiringan lereng.

“Curah hujan yang terjadi dari tanggal 1 hingga 23 Februari 2010 mencapai 960 mm. Besarnya curah hujan tersebut mencapai 480 persen dari rata-rata normal bulan Februari sekitar 200mm/bulan,” kata Kabid Teknologi Mitigasi Bancana, BPPT,  Dr Sutopo Purwo Nugroho saat memberikan evaluasi bencana longsor Ciwidey dan teknologi mitigasinya di Jakarta, Senin (1/3).

Ia menjelaskan, curah hujan yang besar itu telah menimbulkan beban bagi batuan yang kondisinya sudah rapuh karena mengalami pelapukan dan berada pada lereng yang curam. Kemudian timbulnya mata air pada mahkota longsor makin mempercepat proses kejenuhan dan akhirnya menurunkan kestabilan tanah sehingga terjadi longsor. Dikemukakan bahwa mahkota longsor berasal dari lereng bukit dengan kemiringan curam. Kelerengan di titik longosr mencapai 70 persen hinggga lebih 100 persen. Menurutnya, meskipun kondisi hutan di hulu berupa hutan dengan kondisi yang sangat baik dan di bagian longsor berupa hutan sekunder dan perkebunan teh, namun longsor tetap terjadi.

Longsoran berupa bahan rombakan di tebing mengalir melalui celah bukit, dan berkelok ke arah permukiman penduduk. Jenis longsoran adalah berupa debris flow,” katanya. “Dengan mempertimbangkan berbagai aspek penyebab longsor, maka perlu dilakukan upaya mitigasi bencana,” kata Sutopo Purwo. Sedangkan rekomendasi yang perlu dilakukan, menurutnya, adalah memindahkan permukiman ke tempat yang lebih aman dengan sistem cluster di berbagai lokasi. Pemilihan lokasi juga harus mempertimbangkan analisis bencana dan tata ruang detil. Selain itu, katanya, konservasi berbasis biogeo-engineering pada lembah-lembah perbukitan perlu ditanami dengan pepohonan jenis kayu yang memiliki perakaran dalam yang berfungsi sebagai penahan longsor.

Buffer zone antara kawasan perlindungan (kelerengan tinggi) dengan kawasan budidaya di bagian bawahnya dibuat dengan tanaman pohon yang kuat, ditanam secara rapat dan membentuk sabuk hijau yang tebal/berlapis.

“Jenis vegetasi yang perlu ditanam di daerah-daerah lembah adalah jenis tanaman lokal yang sudah nyata terbukti tumbuh dengan baik di daerah tersebut,” katanya.
Beberapa jenis pohon yang dapat ditanam, katanya, adalah puspa (schima walichii), rasamala (Altingia excelsa), huru (Litsia chinensis), Surian (Toona sureni merr), bambu manggong (Gigantochloa manggong), dan Kayu baros (Manglietia glauca BI). Rekomendasi tersebut termasuk agar mempertahankan lahan dengan kelerengan lebih dari 40 persen sebagai kawasan perlindungan berupa ekosistem hutan alam dengan kerapatan pohon yang tinggi.

“Perlu juga dibangun sistem peringatan dini longsor berbasis kondisi geologi dengan aspek dinamis curah hujan, serta perlu dibuat peta kerentanan longsor yang dinamis dengan skala detil, serta perlu evaluasi risiko bencana longsor keberadaan permukiman di selatan Jawa barat itu,” katanya.

Solusi ke depan, katanya, mitigasi tanah lonsgor perlu terus ditingkatkan. Menurutnya, di Indonesia terdapat 154 kabupaten/kota yang memiliki risiko tinggi terhadap longsor. Trend kenaikan longsor di masa mendatang, katanya, akan semakin meningkat karena perubahan pola hujan, perubahan penggunaan lahan dan atropogenik. Kerugian yang ditimbulkannya pun makin meningkat. “Dalam kurun 10 tahun terakhir, bencana longsor di Indonesia telah menyebabkan sekitar 1.000 orang meninggal dunia,” katanya. (T.Gs/ysoel)
Sumber: http://bipnewsroom.info/index

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s